Sabtu, 08 Desember 2012
Kamis, 16 Agustus 2012
Hari Raya Yang Kosong
Aku akan bercerita sesuatu padamu kawan. Sesuatu yang akan kau bilang omong kosong atau mungkin hanya semacam keluhan tidak bermutu ala abg-abg galau masakini yang menulis dalam status jejaring sosialnya.
Lebaran, hari yang paling ditunggu umat muslim seantero nusantara,setauku loh. Namun tidak buat saya untuk lebaran tahun ini. Satu syawal, adalah tidak lebih dari tuntasnya Ramadan buatku. Tidak ada semangat antusiasme seperti biasanya.
Semua sejak kepindahan yang tidak dikehendaki ini. Aku jadi pemurung dan kehilangan semangat walau mungkin aku akan menuntaskan puasa tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang penuh tantangan dan berlubang. Di tahun ini hampir tak ada tantangan sama sekali, kerjaku cuma tidur dan menunggu berbuka tiba tidak heran puasa berjalan mulus. Alasan lain adalah percuma tidak berpuasa pun makanan dan minuman disini buruk. Itulah sebabnya Hari Raya tiada arti lagi bagiku. Tidak ada perjuangan mencari nafkah, uang tambahan dan bahkan THR. Tidak ada perjuangan pulang kampung. Tidak ada perjuangan membahagiakan orang tua. Semua kosong!
Disini. Menganggur. Menanti kelahiran buah hati di tempat yg asing bagiku. Saking asingnya sampai-sampai peluang kurasakan nol persen untuk bertahan. Cuma jenuh, bosan, dan jengah yang tiap hari kurasakan. Hidup menumpang mertua, tidak bekerja, sepenuhnya bergantung pada istri dari uang setoran kost-kostan. Bisa kau bayangkan betapa hancurnya harga diriku kawan!? Parasit! Itu pasti yang akan engkau lontarkan dari pikiranmu.
Katakanlah, apa aku pantas merayakan Lebaran? Seumur hidupku baru kali ini aku merasa tidak berdaya untuk sekedar pulang dan sungkem dengan orang tua. Aku tidak bisa pulang! Aku tidak punya uang! Aku tidak bisa berbakti kepada mereka walau cuma untuk mencium tangan mereka.
Samarinda
Minggu, 12 Agustus 2012
G A L A U
Ku tak tahu lagi
Harus kemana ku berpijak
Di ujung tebing cinta ini
Perlahan habis terkikis
Deburan ombak kerinduan
Bagai maut yang siap mengantar
Ruh yang hina ini kepada-Nya
Kini
Kurasa nisbi segala mimpi
Melayang ragu kaki menjejak bumi
Dari seorang perempuan kutanya hati
Bagaimana cara menepati janji
Horison di ufuk barat
Menelan surya lembayung jingga
Diatas kerinduan yang tak berbatas
Raga nan fana tinggal menunggu masa
"sampai tiba waktuku ku tak ingin seorang pun tahu tidak juga kau tidak perlu sedu sedan itu..." (Kau, Chairil Anwar)
Seringai Matahari
Gelagapan
Diselimuti jejaring nisbi
Mengalir galau menelisik ngeri
Derap canggung di tepian hati
Tetap saja menanti
Sebuah naungan mungil
Yang kan sejukkan nurani
Namun hari demi hari berlari
Terlalu banyak waktu tak berarti
Terlalu gagap dengan mimpi mimpi
Mungkin
Hanya aku disini
Menyeringai kepada matahari
Menggelepar seperti cacing
Berharap
Sekerat lumpur melumur
Naungi rapuhnya ari
Aku mungkin tak punya hati
Jiwa gelap membara dendam
Busuk tak pantas mencintai
Sampai kutuk sumpah serapah
Seling silih berganti
Selasa, 31 Juli 2012
Lirih
Sekian lama bertaut waktu
Mengiring setiap nada riang nan sendu
Berjuta nyanyian melantun merdu
Walau parau suaraku tak senyaring dentingmu
Tak terasa sudah kali berapa kuganti senarmu
Setianya menemani suka dan duka
Menambal segala luka dg nada
Riuh hadirmu mengisi relung jiwa
Rengkuh gejolak birahi mengikis derita
Kini,
Seiring waktu
Rentanya engkau dan rapuhnya aku
Segalanya menjadi satu
Sebait lagu abadi yang takkan berlalu
Jemari terus menari
Meninggalkan jejak
Jasad not balok dari do sampai do
Dari G kembali G
Rentang oktaf meregang syaraf
Hingga nyawa insyaf
Mengejek ruh yg lelah
sendirian...
Selasa, 24 Juli 2012
Aku bosan
Sabtu, 14 Juli 2012
Malam minggu
Sudah hampir 2 minggu sejak kedatanganku ke kota ini dan apa yg
kutakutkan terjadi juga. Penyesalan, kesepian, kekurangan,
kebimbangan, ke-tidak puas-an, dan kerinduan.
Aku telah melepas semua identitasku. Sebagai kepala keluarga yg
seharusnya menjadi tumpuan ternyata cuma menjadi parasit di tempat
terkutuk ini. Aku bahkan telah mengganti identitas dalam arti harfiah
yaitu data kependudukan menjadi warga disini. Bagian dari tempat
terkutuk ini.
Entah mengapa aku tidak suka tempat ini dan entah dimana akal sehatku
sampai harus pindah ke tempat ini. Tempat yg benar-benar asing dan
sungguh tidak bersahabat, pun istriku menunjukkan sifat yg tidak jauh
berbeda dari dulu ketika masih bersamaku.
Tidak, tentu saja aku tidak akan menceritakan perihal istriku, kota
ini, atau mengapa aku menyebutnya 'terkutuk'. Aku hanya ingin menulis
perasaanku, itu saja.
Aku tahu, kau pasti mengatakan aku cengeng. Entahlah, aku
menyembunyikan perasaanku selama ini dari istriku bahwa aku bahagia
dan selalu menghiburnya dikala galau. Disaat ia sedang resah, atau
bersedih dg kata-kata 'sabar sayang'. Karena aku tahu, dalam hatinya
ia sedang merasa bersalah dan aku tidak mau membuatnya semakin hancur
bila aku mengungkapkan perasaanku. Tidak, apalagi mengingat usia janin
dalam kandungannya. Oleh sebab itu, aku butuh engkau untuk mendengar
ocehanku, atau sekedar menatap sinis padaku. Aku hanya ingin menulis,
maaf mengganggu malam minggumu kawan...
Samarinda, 14 Juli 2012, 23:31
kutakutkan terjadi juga. Penyesalan, kesepian, kekurangan,
kebimbangan, ke-tidak puas-an, dan kerinduan.
Aku telah melepas semua identitasku. Sebagai kepala keluarga yg
seharusnya menjadi tumpuan ternyata cuma menjadi parasit di tempat
terkutuk ini. Aku bahkan telah mengganti identitas dalam arti harfiah
yaitu data kependudukan menjadi warga disini. Bagian dari tempat
terkutuk ini.
Entah mengapa aku tidak suka tempat ini dan entah dimana akal sehatku
sampai harus pindah ke tempat ini. Tempat yg benar-benar asing dan
sungguh tidak bersahabat, pun istriku menunjukkan sifat yg tidak jauh
berbeda dari dulu ketika masih bersamaku.
Tidak, tentu saja aku tidak akan menceritakan perihal istriku, kota
ini, atau mengapa aku menyebutnya 'terkutuk'. Aku hanya ingin menulis
perasaanku, itu saja.
Aku tahu, kau pasti mengatakan aku cengeng. Entahlah, aku
menyembunyikan perasaanku selama ini dari istriku bahwa aku bahagia
dan selalu menghiburnya dikala galau. Disaat ia sedang resah, atau
bersedih dg kata-kata 'sabar sayang'. Karena aku tahu, dalam hatinya
ia sedang merasa bersalah dan aku tidak mau membuatnya semakin hancur
bila aku mengungkapkan perasaanku. Tidak, apalagi mengingat usia janin
dalam kandungannya. Oleh sebab itu, aku butuh engkau untuk mendengar
ocehanku, atau sekedar menatap sinis padaku. Aku hanya ingin menulis,
maaf mengganggu malam minggumu kawan...
Samarinda, 14 Juli 2012, 23:31
Sabtu, 25 Februari 2012
DILEMA
Mataku tak mau terpejam malam ini. Percakapan itu sungguh mengganggu pikiranku.
"Aku tidak mau tinggal disana mas ! Aku trauma, bapakmu, ibumu, tetanggamu, semua. Selalu mencaciku, aku depresi mas ! Dan itu tidak sehat untuk pertumbuhan anak kita !"
"Biarkan saja mereka bicara sepuasnya, asal kamu menutup telingamu dan tidak menghiraukannya semua akan baik-baik saja. Cuek sajalah, dan pikirkan dirimu sendiri jangan hiraukan perkataan orang lain. Lagipula aku yakin mereka tidak bermaksud menyakitimu, mereka hanya menasehati walau dari belakangmu dan kebetulan kamu dengar mereka sedang membicarakanmu".
"Iya ! Kamu terus saja membela mereka. Aku ini istrimu mas, cintamu, belahan hatimu. Aku lah yang seharusnya kamu bela demi kenyamananku !"
"Tentu saja aku bela mereka ! Mereka orang tuaku dan tetangga sebelah rumah kita, siapa orang pertama yang kita minta bantuannya selain mereka ?"
"Pokoknya aku tidak mau tinggal disana ! Kamu harus disini bersamaku dengan si jabang bayi calon anakmu yang ada di kandunganku ini."
"Terserah !"
"Aku capek berdebat denganmu, tidak akan pernah selesai."
"Aku disini adalah kakak, keluargaku adalah tanggung jawabku saat orang tuaku sudah tidak lagi mampu mencari nafkah, sedangkan kau, kau masih punya kakak-kakak yang menemani orang tuamu disana. Tidak perlu kita menambahi beban mereka dengan menumpang di rumah mereka. Disini anggota keluarga sedikit, kenapa musti bergerombol disana ? Egois sekali."
"Sekali tidak mau ya tidak mau !"
"Aku trauma, dan aku akan lakukan apapun supaya kamu mau tinggal disini !"
"Ah.. Terserah !"
Kata-kata terakhir itulah yang membuatku galau sepanjang malam. Percakapan selesai tanpa solusi, menggantung, dan kami masih bersikukuh dengan ego masing-masing. Sampai hari berikutnya kami belum kontak sama sekali. Aku memang sedang marah, dan ku yakin dia pun demikian. Jadi aku akan menunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
Belakangan memang kami sering bertengkar mulai soal rumah, tetangga, kebersihan rumah, dan sebagainya. Namun kupikir itu hanya karena kerinduannya akan kampung halamannya di Kaltim, dan bawaan si jabang bayi. Aku memakluminya karena di awal kehamilan emosi wanita sangat labil. Begitu yang kubaca di artikel-artikel kehamilan.
Aku cukup bersabar dengan menuruti apapun keinginannya dan menghiburnya bahwa setelah si kecil lahir kita akan menjenguk kakek neneknya disana. Ternyata, rindunya memuncak seiring amarah yang menggelora, ia pulang.
Aku tidak bisa berbuat banyak, bahkan nasehat ibuku dianggapnya menyerang dan ia semakin meradang ingin pulang. Terpaksa aku menurutinya dengan satu syarat : "setelah si kecil lahir aku akan menjemput kalian"
Jauh panggang dari api. Belum sebulan, terjadilah percekcokan ini. Entah setan mana yang mempengaruhinya.
Aku seperti kehilangan semangat hidup. Saat aku sedang tekun bekerja dengan segenggam cita-cita agar bisa punya rumah sendiri di Jawa dan antusiasme menanti kehadiran si kecil harus pupus dan ku pendam jauh di lubuk hati, itupun jika hatiku masih berfungsi saat sedang hancur seperti ini.
Sebagai laki-laki aku sudah tidak lagi punya harga diri. Jika aku harus hidup ikut istriku. Meskipun sederhana, aku jauh lebih merasa bangga bila istriku mengikuti imamnya dan lebih merasa dihargai dibanding aku yang harus disana.
Sebagai orang Jawa adalah suatu kewajiban menanggung hidup istrinya, walaupun dengan bantuan orang tua, itu sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Entah apa yang sedang dipikirkan istriku saat ini.
Aku rindu padanya.. Aku juga kesal padanya..
Ya Allah, luluhkanlah hati istriku agar ia mau menuruti suaminya, dan bukakan pintu hatinya supaya mau mendengar semua perkataanku.
Amin.
"Aku tidak mau tinggal disana mas ! Aku trauma, bapakmu, ibumu, tetanggamu, semua. Selalu mencaciku, aku depresi mas ! Dan itu tidak sehat untuk pertumbuhan anak kita !"
"Biarkan saja mereka bicara sepuasnya, asal kamu menutup telingamu dan tidak menghiraukannya semua akan baik-baik saja. Cuek sajalah, dan pikirkan dirimu sendiri jangan hiraukan perkataan orang lain. Lagipula aku yakin mereka tidak bermaksud menyakitimu, mereka hanya menasehati walau dari belakangmu dan kebetulan kamu dengar mereka sedang membicarakanmu".
"Iya ! Kamu terus saja membela mereka. Aku ini istrimu mas, cintamu, belahan hatimu. Aku lah yang seharusnya kamu bela demi kenyamananku !"
"Tentu saja aku bela mereka ! Mereka orang tuaku dan tetangga sebelah rumah kita, siapa orang pertama yang kita minta bantuannya selain mereka ?"
"Pokoknya aku tidak mau tinggal disana ! Kamu harus disini bersamaku dengan si jabang bayi calon anakmu yang ada di kandunganku ini."
"Terserah !"
"Aku capek berdebat denganmu, tidak akan pernah selesai."
"Aku disini adalah kakak, keluargaku adalah tanggung jawabku saat orang tuaku sudah tidak lagi mampu mencari nafkah, sedangkan kau, kau masih punya kakak-kakak yang menemani orang tuamu disana. Tidak perlu kita menambahi beban mereka dengan menumpang di rumah mereka. Disini anggota keluarga sedikit, kenapa musti bergerombol disana ? Egois sekali."
"Sekali tidak mau ya tidak mau !"
"Aku trauma, dan aku akan lakukan apapun supaya kamu mau tinggal disini !"
"Ah.. Terserah !"
Kata-kata terakhir itulah yang membuatku galau sepanjang malam. Percakapan selesai tanpa solusi, menggantung, dan kami masih bersikukuh dengan ego masing-masing. Sampai hari berikutnya kami belum kontak sama sekali. Aku memang sedang marah, dan ku yakin dia pun demikian. Jadi aku akan menunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
Belakangan memang kami sering bertengkar mulai soal rumah, tetangga, kebersihan rumah, dan sebagainya. Namun kupikir itu hanya karena kerinduannya akan kampung halamannya di Kaltim, dan bawaan si jabang bayi. Aku memakluminya karena di awal kehamilan emosi wanita sangat labil. Begitu yang kubaca di artikel-artikel kehamilan.
Aku cukup bersabar dengan menuruti apapun keinginannya dan menghiburnya bahwa setelah si kecil lahir kita akan menjenguk kakek neneknya disana. Ternyata, rindunya memuncak seiring amarah yang menggelora, ia pulang.
Aku tidak bisa berbuat banyak, bahkan nasehat ibuku dianggapnya menyerang dan ia semakin meradang ingin pulang. Terpaksa aku menurutinya dengan satu syarat : "setelah si kecil lahir aku akan menjemput kalian"
Jauh panggang dari api. Belum sebulan, terjadilah percekcokan ini. Entah setan mana yang mempengaruhinya.
Aku seperti kehilangan semangat hidup. Saat aku sedang tekun bekerja dengan segenggam cita-cita agar bisa punya rumah sendiri di Jawa dan antusiasme menanti kehadiran si kecil harus pupus dan ku pendam jauh di lubuk hati, itupun jika hatiku masih berfungsi saat sedang hancur seperti ini.
Sebagai laki-laki aku sudah tidak lagi punya harga diri. Jika aku harus hidup ikut istriku. Meskipun sederhana, aku jauh lebih merasa bangga bila istriku mengikuti imamnya dan lebih merasa dihargai dibanding aku yang harus disana.
Sebagai orang Jawa adalah suatu kewajiban menanggung hidup istrinya, walaupun dengan bantuan orang tua, itu sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Entah apa yang sedang dipikirkan istriku saat ini.
Aku rindu padanya.. Aku juga kesal padanya..
Ya Allah, luluhkanlah hati istriku agar ia mau menuruti suaminya, dan bukakan pintu hatinya supaya mau mendengar semua perkataanku.
Amin.
P E R C U M A
Aku bersimpuh
Menadah peluh yang membasuh
Sia-sia jerih payah ku selama ini
Percuma segala perjuanganku sejauh ini
Dimana semua cita-cita pupus
Semua keinginan kandas
Semua harapan musnah
Semua keinginan hanya semu belaka
Kini
Hilang sudah semangatku
Hilang gairahku
Berganti kosong dan hampanya hidup sebagai lelaki
Peluhku tak jadi teduh
Lelahku tak jadi indah
Doaku tak jadi nyata
Rinduku tak jadi menuju
Keringatku tak jadi semangat
Kerjaku tak jadi nyata
Dahagaku dan laparku sia-sia belaka
Aku tak menyalahkanmu
Hatiku menuntut sikapku
Airmatamu menikam jantungku
Tak kuasa beban menghimpit
Dan merubahku menjadi sosok pengecut
Menadah peluh yang membasuh
Sia-sia jerih payah ku selama ini
Percuma segala perjuanganku sejauh ini
Dimana semua cita-cita pupus
Semua keinginan kandas
Semua harapan musnah
Semua keinginan hanya semu belaka
Kini
Hilang sudah semangatku
Hilang gairahku
Berganti kosong dan hampanya hidup sebagai lelaki
Peluhku tak jadi teduh
Lelahku tak jadi indah
Doaku tak jadi nyata
Rinduku tak jadi menuju
Keringatku tak jadi semangat
Kerjaku tak jadi nyata
Dahagaku dan laparku sia-sia belaka
Aku tak menyalahkanmu
Hatiku menuntut sikapku
Airmatamu menikam jantungku
Tak kuasa beban menghimpit
Dan merubahku menjadi sosok pengecut
Minggu, 25 Desember 2011
G E R A H
Seketika datang angin menjengukku
Tertatih tiap nafas hembuskan dosa
Geliat hasrat cicipi derita
Bayangkan dunia tanpa gelak tawa
Seketika menyembur serapah
Sesunyi belaian salju di pagi buta
Terselimut kabut dirundung mega
Selentingan manusia mulai membatu
Bagaimanapun cinta meronta
Dikekang dibelit tali pelana
Menyusup bagai gerilya
Porandakan jiwa terbangun karang
Rintih
Semu
Muram
Durjana
Seutuh nisbi mereguk secawan dosa
Senista tubuh mandikan nanah
Terkutuk dan hina
Sabtu, 24 Desember 2011
Prelude
Dari sebuah pelabuhan yang lama
Menanti kisah perjumpaan dan,
Kasih perpisahan sungguh
Menafikan sejuta makna pesona
Menyandarkan harapan juga kepalsuan
menebarkan benih kebencian
pada peninggalan masa silam
tentang cinta dan persahabatan
terlalu dini untuk ucap selamat tinggal
namun cukup lama untuk bersulang
Masa dan tempat hanya diorama
Parapox sejarah yang terulang
Dari tiupan angin
dan,
dongeng para saudagar
Menjual janji serapah di setiap lalu lalang
yang kita pajang sebagai hiasan
di rak-rak buku
lemari,
hingga kasur pembaringan
apakah ini ? Kebohongan ?
Menanti kisah perjumpaan dan,
Kasih perpisahan sungguh
Menafikan sejuta makna pesona
Menyandarkan harapan juga kepalsuan
menebarkan benih kebencian
pada peninggalan masa silam
tentang cinta dan persahabatan
terlalu dini untuk ucap selamat tinggal
namun cukup lama untuk bersulang
Masa dan tempat hanya diorama
Parapox sejarah yang terulang
Dari tiupan angin
dan,
dongeng para saudagar
Menjual janji serapah di setiap lalu lalang
yang kita pajang sebagai hiasan
di rak-rak buku
lemari,
hingga kasur pembaringan
apakah ini ? Kebohongan ?
Senin, 11 April 2011
pembodohan cinta
sejak kehormatan tercabik hati
kala itu sgala nista meletuk
lacur dunia dg tipu muslihat
mrajam jalan hdup sang kafilah
yang nestapa smpai ujung hayat..
hanya dia..
apakah pertanyaan atau prnyataan
yang bodoh menipu genggam takdir
menyeruak lucuti sgenap dosa raga..
mimpi aneh sjajar carut marut dunia
saling sengkarut kjahatan tak kasat mata spanjang sjarah
kcelakaan anti-tesis ttg repr0duksi masal
trk0optasi paradox k0ntrol kmanusiaan..
kala itu sgala nista meletuk
lacur dunia dg tipu muslihat
mrajam jalan hdup sang kafilah
yang nestapa smpai ujung hayat..
hanya dia..
apakah pertanyaan atau prnyataan
yang bodoh menipu genggam takdir
menyeruak lucuti sgenap dosa raga..
mimpi aneh sjajar carut marut dunia
saling sengkarut kjahatan tak kasat mata spanjang sjarah
kcelakaan anti-tesis ttg repr0duksi masal
trk0optasi paradox k0ntrol kmanusiaan..
egalite
Sendirian menikmati kopi
sore hari dengan selembar koran kemarin
kepulan sebatang
rokok senyawa dengan udara
bergelombang semburan suara dari radio
gairahkan birahi yg mulai lusuh
sore hari dengan selembar koran kemarin
kepulan sebatang
rokok senyawa dengan udara
bergelombang semburan suara dari radio
gairahkan birahi yg mulai lusuh
sekarat
jeruji besi ku terlahir
buta dan tak dpt mndengar
buntung dan tak dpt mrasakan
hdup tapi merasa mati
mnurut apapun yg dkehendaki
tuanku majikanku pmimpinku
aku tak sendiri
bnyak saudaraku yg sama
cuma mngekor cuma mnurut
buta
bisu
tuli
buntung tangan dan kaki
hingga akal dan nurani tak lagi berfungsi
makan
minum
kencing
berak
cuma itu yg kami lakukan
hingga birahi pun dkebiri
putus asa?
tidak juga..ku masih punya mimpi
smua akan mulai stelah mati
entah diatas atau dibawah
smua mnunjukkan eksistensi
sebagai manusia sejati
buta dan tak dpt mndengar
buntung dan tak dpt mrasakan
hdup tapi merasa mati
mnurut apapun yg dkehendaki
tuanku majikanku pmimpinku
aku tak sendiri
bnyak saudaraku yg sama
cuma mngekor cuma mnurut
buta
bisu
tuli
buntung tangan dan kaki
hingga akal dan nurani tak lagi berfungsi
makan
minum
kencing
berak
cuma itu yg kami lakukan
hingga birahi pun dkebiri
putus asa?
tidak juga..ku masih punya mimpi
smua akan mulai stelah mati
entah diatas atau dibawah
smua mnunjukkan eksistensi
sebagai manusia sejati
parodi nyinyir
terpelanting sekejap kujur badan
menghenyak lelap saat terlelap
jeri nista sgala yg d0minan
serasa sunyi bumi berpijak
dg sesuatu yg formal palsu
mengabdi kebodohan dan hanyut pada fana
kerlip mentari mengejek makhluk dan isinya
runtuh sgala dinding elegi
yg slama ini k0koh bersama kepalsuan
kemapanan 0m0ngkos0ng yg nistakan badan
trenyuh miris hati meradang
pada apa apa yg akan kulakukan
tak pernah peduli dg setan maupun dosa
sejenak meratap merutuk mencaci
kala sedusedan jiwa yg mer0nta
bahwa tiada yg abadi
tiada yg kekal dikikis usia
dunia makin renta
rapuh menanggung beban dosa manusia
menghenyak lelap saat terlelap
jeri nista sgala yg d0minan
serasa sunyi bumi berpijak
dg sesuatu yg formal palsu
mengabdi kebodohan dan hanyut pada fana
kerlip mentari mengejek makhluk dan isinya
runtuh sgala dinding elegi
yg slama ini k0koh bersama kepalsuan
kemapanan 0m0ngkos0ng yg nistakan badan
trenyuh miris hati meradang
pada apa apa yg akan kulakukan
tak pernah peduli dg setan maupun dosa
sejenak meratap merutuk mencaci
kala sedusedan jiwa yg mer0nta
bahwa tiada yg abadi
tiada yg kekal dikikis usia
dunia makin renta
rapuh menanggung beban dosa manusia
Penantian Yang Sia-sia

Aku
Hanyalah sekerat daging
Busuk
Menjijikan
Kering
Aku
Hanyalah onggokan tulang
Rapuh
Mengerikan
Jalang
Aku
Berjalan diatas bumi yang letih
Angkuh
Congkak
Dengan tertatih
Berak dan kencing di atasnya
Tanpa peduli apa yang akan terjadi
Aku
Terkekeh
Terbahak
Tertawai diri sendiri
Sosok berlumur darah
Berlagak pahlawan
Aku
Benci aku
Benci segalanya
Menari mengejek dunia
Bernyanyi teriakkan kehinaan
Aku
Coba pahami kenisbian
Yang menyeret kepada jelaga
Hingga legam sekujur jasad
Dan kini..
Semua percuma
toto on blog: Bagaimana Menciptakan Sugesti
toto on blog: Bagaimana Menciptakan Sugesti: "Sebuah Tanya yang Kerap Muncul bagi Seorang Pencipta Puisi Sugesti jika dirunut pengertiannya berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia susuna..."
huh..!
kosong...
berharap teratai menjuntai
temani liukan sang bayu melambai
sia-sia...
berlari mengejar matahari
angkuh acuhkan derita manusia
dingin...
lembab sang malam
hadirkan gelap yang enggan
tinggal reruntuh kesombongan
yang masih tersisa disini
merapat sunyi bersama
bongkah karang terjal nan tajam
tertatih angan melata sepanjang usia
berlumur noda sampai senja tiba
payah...
sampai kapan mendung menghalang
hangatnya jiwa tuk bersua kembali
kini...
ketakutan...?!
berharap teratai menjuntai
temani liukan sang bayu melambai
sia-sia...
berlari mengejar matahari
angkuh acuhkan derita manusia
dingin...
lembab sang malam
hadirkan gelap yang enggan
tinggal reruntuh kesombongan
yang masih tersisa disini
merapat sunyi bersama
bongkah karang terjal nan tajam
tertatih angan melata sepanjang usia
berlumur noda sampai senja tiba
payah...
sampai kapan mendung menghalang
hangatnya jiwa tuk bersua kembali
kini...
ketakutan...?!
lilin
dirimu
dalam guratan pena
seperti senja
teduhkan jiwa yang kecewa
nafasmu
dalam balutan tinta
setiap desahnya
membekas selamanya
seraut wajah sendu
sibakkan sekat sekat rindu
menyusup ke balik kalbu
senandungkan lagu lagu
kau susun serpihan hatiku
yang lama tercecer membeku
kutak pernah tahu
untuk apa kau lakukan itu
untuk kau hancurkan lagi
atau
untuk kau simpan dalam
lemari hatimu
dalam guratan pena
seperti senja
teduhkan jiwa yang kecewa
nafasmu
dalam balutan tinta
setiap desahnya
membekas selamanya
seraut wajah sendu
sibakkan sekat sekat rindu
menyusup ke balik kalbu
senandungkan lagu lagu
kau susun serpihan hatiku
yang lama tercecer membeku
kutak pernah tahu
untuk apa kau lakukan itu
untuk kau hancurkan lagi
atau
untuk kau simpan dalam
lemari hatimu
spektrum
kerlip pelangi sejenak enyahkan gundah
merajuk coba menyusup ke dalam lara
bersijingkat menembus rongga dada
liuk sinarnya ber-warni warna
luruhkan sejenak gulita yang mendera
merajuk coba menyusup ke dalam lara
bersijingkat menembus rongga dada
liuk sinarnya ber-warni warna
luruhkan sejenak gulita yang mendera
senja pun tiba menghapus jejaknya
berganti kerlip bintang bersama gelap
mengiring lelah basah hujan seharian
sedikit rerabut jingga sisakan pedih
tinggalah sendiri menghitung bintang
masih termangu mencari penghibur
hilir mudik,silih berganti dengan irama
gelap dan terang cuma spektrum
mengubah nada jejolak dalam dada
marah
bahagia
sedih
luka
hitam
putih
sementara tak terasa mengintip fajar
sepercik sinar horison pertanda bintang tuk pulang
waktunya mentari hangatkan bumi
temani hari hadapi realita
betapa dunia serapuh manusia
segala nista dapat merubahnya
Langganan:
Postingan (Atom)


